Read first or watch first? : mari mereview film Harry Potter and the Half-Blood Prince

Published Juli 20, 2009 by The Word Potion

Film bagus untuk menggambarkan aksi dengan sedikit kata-kata, teater bagus untuk menggambarkan kata-kata dengan aksi, dan radio secara keseluruhan terdiri atas kata-kata. Namun buku bisa mengajakmu menjelajah lebih dalam ke pikiran dan perasaan orang dibanding media lain

(Christopher Paolini—Eragon’s author, dikutip dari salah satu newsletter Gramedia Junior saya).
Great, huh? I never let this quote out from my mind. Ketika pertama kali membacanya a couple years ago, saya jadi bertanya-tanya, apa sekiranya jawaban yang akan diberikan orang-orang ketika mereka diminta memilih (dalam kasus a film that is based on a novel) antara watch the film first and read the novel then, or read the novel first and watch the film then.

Sebagian bisa jadi memilih option yang pertama, which is orang jadi tertarik membaca bukunya setelah tau filmnya bagus, seperti yang dibilang Gita Gutawa, “Saat ini aku masih nyelesaiin Twilight series, he he he… agak telat memang. Jadi aku nonton filmnya dulu, baru baca. Tapi lebih enak sih. Jadi sambil baca aku bisa ngebayangin wajah tokohnya berdasarkan karakter di film.” (quoted from kaWanku #51) Atau sebagian bisa saja memilih option kedua, dengan alasan ingin “membangun karakter sendiri” dan kemudian menyaksikan apa yang tadinya hanyalah bangunan imajinasi dalam pikiran menjadi sebuah bentuk visual yang “nyata.” Dalam hal ini saya jadi ingat apa yang pernah dibilang J.K. Rowling, bahwa sekalipun Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint adalah jelmaan Harry, Hermione dan Ron versi film, sejatinya karakter Harry, Hermione dan Ron yang dia bangun sendiri tetap dan selalu hidup dalam imajinasinya.
Saya pribadi lebih condong ke option kedua. Suatu hari di masa-masa yang telah lama berlalu, seorang tetangga yang baik hati meminjamkan buku Harry Potter dan Batu Bertuah. Sejak itu saya menyukai Harry Potter, dan sejak itu pula mulai membangun karakter Harry-Ron-Hermione dalam imajinasi saya—setidaknya sampai beberapa waktu kemudian filmnya muncul. Saya akui bahwa kemudian sosok trio Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint begitu kuat mengakar dalam pikiran saya—sampai-sampai mampu menyingkirkan karakter Harry-Ron-Hermione yang sudah lebih dulu hidup dalam imajinasi saya. Akan tetapi banyak juga karakter-karakter lain yang begitu kontras dengan bangunan imajinasi saya. Sebut saja beberapa karakter seperti Luna, Sirius, Fleur, dan Tonks. Luna yang ada dalam pikiran saya adalah Luna yang sering terlihat melamun, “sinting”, dan yang penting, bukan gadis yang menarik. Lihat saja sosok Evanna Lynch—pemeran Luna Lovegood. Okelah kesintingannya “dapet” *muja make up artistnya*, tapi siapa yang bersedia bilang bahwa Evanna dari sononya memiliki wajah yang tidak cantik? Tentu saja tidak ada! Contoh lain adalah karakter Sirius yang diceritakan J.K. Rowling sebagai sosok yang walaupun urakan dan tengil tapi memiliki ketampanan yang “ehm.” Menurut saya, seorang Gary Oldman kurang kuat mewakili hal ini. Dan Tonks versi film lebih terlihat seperti seorang perempuan liar dan penggoda (ups!)—alih-alih sosok yang ceria dan menyenangkan seperti dilukiskan di buku.
Terlepas dari semua pandangan saya ini, tentu saja sutradara, produser dan casting director film Harry Potter bukan tanpa alasan memilih Gary Oldman, Evanna Lynch, dan pemain-pemain lain. Proses castingnya juga sudah pasti melalui sebuah pertimbangan matang. Dan yes, they all are human being. Human being, seperti juga kita, hanya bisa mencapai “close to perfect.” Karena pada akhirnya, ini semua berujung pada fakta bahwa masing-masing kita mempunyai ide, gagasan atau pendapat yang bisa berbeda dari banyak orang lain. Benar, lagi-lagi ini harus kembali diingat, bahwa No Body’s Perfect.

***

Sebenarnya tujuan awal saya menulis kali ini adalah untuk mereview film Harry Potter and the Half-Blood Prince (HHBP). But wait! Bukankah dari tadi bahasa dan diksi saya kedengaran terlalu serius dan resmi? Heuheu.

Sebelum mulai mereview, saya akan terlebih dulu menceritakan sms yang saya kirim pada seseorang-yang-saya-kira-bernama-Yogi (bener kan, Des?! See? Masih inget namamu, dudul!), orang pertama yang saya kirimi sms setelah saya selesai nonton film HHBP. Saya bilang secara keseluruhan isi film HHBP terlalu berlebihan. Mulai dari scene Bellatrix&Fenrir Greyback menyerang dan membakar The Burrow (yang sama sekali tidak disinggung-singgung di buku!!), Harry-Ginny vs. Bella-Fenrir, “incendio”nya Dumbledore waktu mengusir Inferi, sampai adegan nangisnya Draco yang begitu mengharu-biru, tapi tetap saja menurut saya adegan-adegan ini digambarkan too over. Dengan ketiadaan scene “pemakaman Dumbledore,” film ini terasa kehilangan “roh” nya. Part tentang Quidditchnya? Trust me, tidak se “wah” yang kita pikirkan. Tak lupa saya menambahkan bahwa adegan favorit saya adalah adegan nangisnya Hermione yang sedang cemburu pada Ron, yang dengan tambahan burung-burung kecil dan (tentu saja) Harry yang selalu siap menghiburnya, didukung oleh musik yang “dapet banget,” mampu membuat saya terbawa suasana. Baru terasa oleh saya bahwa trio Harry-Ron-Hermione bukan lagi anak kecil, dimana perasaan cinta-ala-orang-dewasa mulai menghinggapi mereka. Oh shit! Apa yang lebih indah dari kekuatan sebuah persahabatan yang tulus dan tau bahwa ada orang lain yang bahunya bisa kita pinjam kapanpun kita pengin nangis?

Yogi, yang sepertinya tidak terima, mengirimi saya sms seperti ini:
“Ok it’s my turn. Hmm.. brubung Q udah lp sluruh dtail bukunya.. Q sgt mnikmati ni film. Bnr2 nangis pas ngilangin tnda kgelapan. Sk jg hermionie dg brung2ny. Stuju quiddtch cm fokus k ron.. trus ap lg y.. kereen kog.Q ga bgtu sk adgan pmakaman dmbledore jg c..hhe”

Menurut Yogi lagi, adalah suatu kesalahan besar membaca lagi bukunya mendekati filmnya diputar.
“…ksalahan tuh! Mw nton film kog bc lg..rugi donk kluar dwit. Q ga bc lg biar bs dpt suka duka filmx.ky org yg ga tw ap2 ttg harPot.mnurutQ sm skali ga lebay.soalny Q ngrasa bk 6 krg aksi.”


Memang, tujuan saya membaca lagi bukunya tak lain adalah untuk me-remind diri saya tentang details yang ada di novelnya dan kemudian membandingkannya dengan adegan di film. Dengan banyaknya adegan dalam novel yang diubah-tambah-kurangi, bisa saya bilang, they, who watch the film without read the novel, must be lost the details too much. Beberapa hal yang tidak sama antara film dan novel yang berhasil saya catat, diantaranya:

1. Banyak karakter dalam novel yang cukup memegang peran penting, atas alasan durasi tentu saja, tidak dimunculkan/ dihapus dari film, seperti Dobby, Kreacher, Fleur, Bill, Keluarga Dursley, Fudge, dan Rufus Scrimgeour.

2. Bagian cerita dalam novel yang tidak diceritakan di film, antara lain pemakaman Dumbledore, desa Hogsmeade, pertempuran di Hogwarts, pertemuan Klub Slug di kereta api Hogwarts Express, perjalanan keluarga Weasley-Harry-Hermione ke Diagon Alley memakai mobil pinjaman Ministry of Magic, pertemuan Fudge-Rufus Scrimgeour-perdana menteri Muggle, hasil OWL, Hermione yang kena tonjok Teleskop-tinju si kembar, tidak ada “Dahak yang berlebihan,” pembicaraan Dumbledore dan Harry di lemari sapu keluarga Weasley, pesan terselubung Harry kepada Mr Weasley sebelum keberangkatan Hogwarts Express, Pertemuan tidak sengaja Harry-Ron-Hermione dengan Malfoy dan ibunya di toko Madam Malkin, Harry yang menerima detensi dari Snape.

3. Sebaliknya, ada adegan di film yang sama sekali tidak disinggung-singgung dalam novelnya. Salah satu contohnya adegan penyerangan The Burrow. Sedangkan karakter yang ditambahi adalah anak kembar dari asrama Slytherin yang terlihat ikut menghadiri jamuan makan Horace Slughorn.

4. Saat Bella&Cissy bertamu ke rumah Snape di Spinner’s End, Pettigrew yang membuka pintu, padahal harusnya Snape sendiri yang membuka pintu.

5. Dumbledore menjemput Harry bukan di depan kafe, melainkan di rumah keluarga Dursley Dalam novel juga tidak diceritakan Dumbledore dan Harry menatap Billboard.

6. Ketika pertama kali tiba di The Burrow, Mrs Weasley lah yang pertama kali menyambut Harry—alih-alih Ginny yang pertama memeluknya seperti diceritakan dalam film.

7. Malfoy berkunjung ke Borgin and Burkes bersama Narcissa, padahal dalam buku Malfoy mendatangi toko itu sendirian dan juga melarang Mr Borgin—si pemilik toko, memberitahu kunjungannya kepada siapapun, termasuk pada Narcissa, ibunya.

8. Di Borgin and Burkes, Harry-Ron-Hermione memata-matai Malfoy dari balik atas genteng, seharusnya dari balik lemari.

9. Dialog di toko Sihir Sakti Weasley,
“Berapa harga barang-barang ini?” (Ron)
“5 Galleon.” (Fred dan George)
“Kalau untukku berapa?” (Ron)
“5 Galleon.” (Fred dan George)
“Aku kan saudara kalian!” (Ron)
“10 Galleon!” (Fred dan George)

Seharusnya seperti ini (HHBP hal.157),
(Ron membawa setumpuk barang)
“Semuanya 3 Galleon, 9 Sickle, dan 1 Knut. Bayar” (Fred dan George)
“Aku kan adik kalian!” (Ron)
“Dan yang kauambil itu barang-barang kami. 3 Galleon, 9 Sickle. Kuberi kau potongan 1 Knut.” (Fred dan George)
“Tapi aku tak punya 3 Galleon, 9 Sickle!” (Ron)
“Kalau begitu lebih baik kaukembalikan semuanya, dan kembalikan ke raknya yang benar.” (Fred dan George)

10. Yang menemukan Harry yang terkena “Petrificus Totalus” Malfoy di dalam salah satu kompartemen Hogwarts Express adalah Luna, padahal harusnya Tonks.

11. Dalam novel, bukan Ginny yang mengantar Harry menyembunyikan buku ramuan milik The Half-Blood Prince di Kamar Kebutuhan.

12. Harry dan Ginny tidak mengalami first kiss di Kamar Kebutuhan, melainkan di Ruang Rekreasi Gryffindor, disaksikan banyak orang, dalam keriuhan pesta kemenangan tim Quidditch Gryffindor.

13. Ini terasa sangat aneh, mendengar Tonks di bagian awal film memanggil Lupin “sayang,” padahal dalam novel kita baru tau bahwa Tonks ternyata menyukai Lupin justru di 2 bab terakhirnya.

14. Perjalanan Harry dan Dumbledore dengan pensieve terjadi hanya 3 kali. Dalam novel, jelas lebih dari 3 kali.

15. Dumbledore ber-disapparate dari gua dan muncul langsung di Menara Astronomi. Padahal dalam novel, Dumbledore dan Harry ber-disapparate ke Hogsmeade.

16. Saat Malfoy menyudutkan Dumbledore, Harry harusnya juga berada di ruang yang sama di Menara Astronomi, terkena mantra Petrificus Totalus Dumbledore dan tertutup jubah gaib. Tapi di film malah digambarkan Harry berada di bawah semacam loteng, tanpa memakai jubah gaib mengawasi Malfoy menyudutkan Dumbledore. Harry kemudian dikejutkan oleh kemunculan Snape yang tiba-tiba di belakangnya dan Snape hanya menyuruh Harry diam. Sungguh konyol!

16 perbedaan ini adalah salah satu dari begitu banyak perbedaan lain yang mungkin luput dari pengamatan saya. Yang paling mengecewakan saya adalah 2 dialog akhir dalam novel yang menjadi favorit saya digambarkan dalam film hanya seperti sekedar untuk mengantarkan penonton ke bagian akhir film. Seharusnya David Yates menaruh perhatian yang lebih besar lagi pada 2 dialog ini karena 2 dialog inilah yang menurut saya merupakan esensi dari the whole content of HHBP, sekaligus meninggalkan sedikit (ulangi: sedikit!) petunjuk menuju film berikutnya, Harry Potter and the Deathly Hallows. Bagi yang sudah membaca novelnya, sudah pasti tidak asing dengan 2 dialog yang saya maksud. U know, dialog “perpisahan” Harry-Ginny di pemakaman Dumbledore,

Ginny, dengar… Aku tak bisa lagi berhubungan denganmu. Kita harus berhenti kencan. Kita tak bisa bersama-sama. (Harry, HHBP hal.808-809)

Untuk alasan mulia yang bodoh, kan? (Ginny, HHBP hal.809)

Rasanya seperti… seperti kehidupan orang lain, selama beberapa minggu terakhir bersamamu ini. Tapi aku tak bisa… kita tak bisa… ada hal-hal yang harus kulakukan sendirian sekarang.  (Harry, HHBP hal.809)

Satu lagi adalah percakapan antara Harry, Ron dan Hermione, juga dalam pemakaman Dumbledore.

Aku tidak akan kembali sekalipun Hogwarts dibuka lagi.  (Harry, HHBP hal.814)

Kau sudah pernah bilang kepada kami, bahwa ada waktu untuk berbalik kalau kami mau. Kami sudah punya waktu untuk mempertimbangkannya, kan? (Hermione, HHBP hal.816)

Kami bersamamu apa pun yang terjadi (Ron, HHBP hal.816)

Benar. Tidak mudah memang, menerjemahkan novel setebal HHBP yang berjumlah 816 halaman ke dalam bentuk film yang “hanya” berdurasi 153 menit tanpa mengompres sedikit banyak bagiannya. Dan yah, saya (dan Yogi juga), sepakat bahwa David Yates kali ini sudah memerankan tugasnya dengan baik—mengingat hasil kerjanya di film Harry Potter and the Order of Phoenix sangat mengecewakan. Nilai plus yang menjadi kekuatan film ini adalah music scoring nya, yang menurut saya sangat-sangat-keren-sekali, mampu menguatkan tiap adegan di film. Filmnya juga terasa tidak begitu gelap. Draco makin terlihat keren (subjektif nih! :D ). Si pansy ga jelek-jelek amat. Rumah snape ga seseram yang di novel yah?! Love story-nya? So nice, lovely n smooth  ^^
Ke 21 lagi, ngantri lagi, dan, nonton lagi yuuuk…

–kEpAdA sIaPa SaYa BeRtErImAkAsIh—
My big thanks goes to Yogi a.k.a Dessy. Buat semua euforia pra-pasca premiere HHBP. Dari komen fs sampai sms. Dari mulai nyari infonya bareng-bareng, ngupdate beritanya bareng-bareng, tukeran info majalah-tabloid yang ngemuat edisi Harry Potter, berjuang ngedapetin tiket premiere-nya bareng-bareng, ngereview bareng-bareng, sampe nungguin terbitnya Cinemags bareng-bareng (Yogi got Ron’s wand… n thx God, I got Snape’s wand!). Seneng bisa ngelewatin itu semua sama kamu—sekalipun kamu jauh disana. You’re such a good partner, the lovable one. Yes, finally it comes to its end. Tahun depan lagi yah..! Can’t wait to see the next Harry Potter film, huh Des?

2 comments on “Read first or watch first? : mari mereview film Harry Potter and the Half-Blood Prince

  • Wah, wah, HBP walaupun banyak dimodif emang tetep seru kok. Cuma setuju aja kalau di HBP itu kurang action.

    Btw, soal pemakaman Dumbly, disilanyir bakalan jadi adegan pembuka HP n DH part 1. ^^

    Jangan lupa kunjungin blog gw juga ya.. haha.. *ngarep*

    • HBP seru? engga ah! biasa aje… hehe
      honestly, justru lebih seru euforia pra-premiere nya..!
      nungguin pilemna diputer… ugh seru gila! berdebar-debar dan ga sabar banget dh pokonya. ia ga?!

      taunya pas pilemnya premire, kelar nnton, yang ada malah bilang dlm hati, “JAH, SEGINI DOANK?”

      saya mmg bukan org yg murah hati menilai positif pilem2 yg notabene kata org2 jamak bilang “BAGUS bin KEREN”
      Transformer 2 misalna, yg kata org2 ciamik abiz, deuh kata saya sih, dimana menariknya! jauh lebih seru yg pilem pertamanya. pilem keduannya malah kek pilem anak kecil. ditonton sambil merem-melek juga kita msh bs ngikutin. hihihi

      yasud, udh kbnyakan ceramah nih kek nya. mana huruf “Y” di keyboard ni warnet susah dipencet sangat! *pengen nabok yg punya warnet* hohoho
      capcusss…..

      owke2… maen2 ke blogmu bentar boleh juga..

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: