From The Twilight Saga: New Moon (A Little Review)

Published November 25, 2009 by The Word Potion

I’m not a twilighthard. Exactly nope! But let’s try to find some words to be said about New Moon.

Well. Dimana segalanya dimulai, kesitu pula segalanya berarah.
Ingat opening scene nya Harry Potter and the Half-Blood Prince?
Yah, adegan penggambaran kekacauan dunia Muggle oleh Death Eaters yang diwakili oleh ambruknya jembatan London dan sebagainya itu.
Di New Moon, film dibuka dengan adegan Bella Swan—di tengah hiruk-pikuk penduduk kota Volterra yang sedang merayakan festival San Francisco—berusaha mati-matian mencapai Edward Cullen, sebelum segalanya terlambat. Wondering enough. At least mungkin bagi mereka yang belum sempat baca bukunya.

Okay. Itu tadi tentang opening scenenya.
Tentang filmnya sendiri, terlepas dari Rotten Tomatoes yang hanya memberi 29% untuk film ini, IMO is entertaining. Me myself really being entertained by that.
Atas presentase 29% itu, para certified authors & critics of Rotten Tomatoes beralasan begini,
“The Twilight Saga’s second installment may satisfy hardcore fans of the series, but outsiders are likely to be turned off by its slow pace, relentlessly downcast tone, and excessive length.”

yang kalau diterjemahkan ngawur-ngawur, kurang lebih artinya seperti ini,
“Seri kedua Twilight Saga ini mungkin memuaskan para penggemar berat serialnya, tapi bagi orang luar bisa berarti sebaliknya mengingat alurnya yang lambat, iramanya yang “sangar”, dan durasinya yang melebihi batas.”
Well, saya bukan 2 diantara itu. Saya bukan penggemar berat The Twilight Saga, tapi dibilang outsider, sepertinya juga bukan.
So yeah, let’s notice the 3 points given by certified authors & critics of Rotten Tomatoes.

1. ALUR LAMBAT
Hard to say, tidak setuju dengan alasan ini. Bukunya malah seribu kali lebih-lebih-lebih lambat bin membosankan. U know, bagian cerita Bella menghabiskan waktu dengan Jacob setelah kepergian Edward, ga ada yang lebih membosankan dari ini. Hampir saja memutuskan berhenti baca novelnya saking bosannya. Pendapat subjektif, Stephanie Meyer masih kalah jauh dalam urusan memainkan kata-kata dibanding J.K. Rowling (maap ye tante Stephanie!๐Ÿ˜€ )
Moreover, bukunya menggambarkan sebegitu rapuh.puh nya seorang Bella Swan (how come a person could be like that!). Give me 3 words buat karakter Bella Swan dalam buku: kelewat rapuh, ceroboh, terpuruk. Untungnya begitu diadaptasi ke bentuk visual, jatuhnya tidak separah yang digambarkan di buku.

2. IRAMA “SANGAR”
Ntah bagaimana mengartikan kata ‘tone’ nya Rotten Tomatoes. Musiknya kah yang dimaksud? Anggap saja begitu๐Ÿ˜€
Ngomong tentang ost.nya ajalah. Sebelum premiere, sudah prepare download 10 ost.nya. Sudah muter berulang-ulang pula. Tapi tetep aja ga ada yang masuk๐Ÿ˜€ Masih lebih menjagokan ost.nya Twilight. Minimal sudah sangat2 familiar sama Decode nya Paramore & Leave Out All The Rest nya Linkin Park.
Tentang sound effect nya? Yayaya, lumayan lah. 3 1/2 poin dari 5. Terutama yang ada adegan werewolfnya. Terutama lagi yang adegan Sam dan anak buahnya ngejar Laurent. Lumayan ada gregetnya timbang 2012 (yieeeek…. sama sekali ga tersentuh sama sound effectnya 2012!!).
Tapi lagi-lagi, masih lebih suka sound effectnya Twilight. Ingat adegan The Cullens ft. Bella main Baseball before it was interrupted by Laurent-James-Victoria? Ingat? That was my most fav scene di Twilight, gara-gara terinfluence kuat oleh sound effectnya, i think. Rasa-rasanya tak ada yang bisa menggantikan adegan itu, tidak adegan-adegan dalam New Moon sekalipun.

3. OVER LENGTH
Ini maksudnya durasi kali ya? Melebihi batas? Ah engga ah! Yang ada kurang, malah. Suka sekali endingnya. “Marry me, Bella…” “Menikahlah denganku, Bella…”
dan tiba-tiba aja gitu, muncul credit title nya. The End. Like it sooooooooooooooo๐Ÿ™‚
Tapi ending bukunya ga kalah bagus. Ending bukunya lebih dramatis (Stephanie’s style, selalu dibuat begitu),
“Kutegakkan bahuku dan berjalan maju menyongsong nasib, takdirku berjalan mantap mengiringiku.”

Nambah 1poin ekstra, ya?
4. KARAKTER
Cuma terarik bahas 1 karakter. The new one. Jane Volturi–starred by Dakota Fanning. Salah satu yang paling dinanti dari New Moon: Dakota Fanning performance. Ga suka. Kali ini, usia tidak bisa bohong. Merhatiin kan tadi? C’mon… itu anak 15 taun, mau disulap kaya apa juga hasilnya ga bakal maksimal buat meranin Jane Volturi. Casting directornya kenapa ga milih yang rada tuaan sih..? At least yang seumuran Alexa Vega gitu kek. So far, kemampuan Dakota Fanning dalam berakting, no doubt, selalu dua jempol. Tapi sayangnya, tidak untuk di film ini. Sumpah, ga pantes. Jauh lebih suka ngeliat Dakota berperan di film terakhirnya sebelum New Moon, Push. Di Push, she was so natural, wild, sexy, brilliant. Huhuhu sayangnya itu tidak berulang di New Moon.

Apalah itu, untuk ukuran film adapatasi dari buku, New Moon baguslah. Bahasa filmnya, ENTERTAINING. Tidak semengecewakan 2012. But still, tidak lebih bagus dari Harry Potter *LOL*

Yang di-tag di note ini,
I’m also waiting for ur own New Moon review, guys!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: