Sudah pada Porsinya

Published Maret 19, 2011 by The Word Potion

Ada tidak, yang lucunya ngalahin pelawak?

Ada kok. Apa  hayooo?

Iyes, BALITA!

Mau bukti? Yiuk mariiiy…🙂

 

***

Kenalkan adik2… mbak2… mas2… tante2… oom2…

Namaku NADYA ALFAIDA.

Umur 21 bulan.

Hobi nangis, jejeritan, lari  sana-sini, main sama kucing, dan nonton bobobpepen (Spongebob Square Pants kali ya maksudnyee…).

Bakat ajaib bisa mengidentifikasi segala jenis barang, termasuk buah, binatang, kendaraan, dan macam minyak2an (iyah, minyak2an. aku dong bisa bedain mana minyak telon, mana minyak kayu putih, tapi belum ngerti yang namanya minyak tanah ya, kakak2. Pokoknya kata bunda kalo minyak yang diusapin ke tubuh aku sehabis mandi itu namanya ‘minyak telon’. Kalo aku bentol2 kena gigit nyamuk2 nakal, bunda ngusapin ‘minyak kayu putih’).

Apa-apa? Idiiiiih pada penasaran sama wajah aku?? Ocedeeeh… ini aku liatin yaa. Eh ini yang moto fotografer handal loh. Gak beda jauh kok sama Darwis Triadi KW-101. He he he

satu lagi, ah… ;P (jangan salah, balita juga bisa melet loh…)

Okeh, cukup ya kakak2 kenalannya…

Selanjutnya aku kasih lagi ke yang punya blog ini.

 

***

Tiap anak kecil punya sesuatu yang enggak dipunya orang gede.

Sesuatu yang bisa bikin orang gede takjub, mesem2, dan geleng2.

Beda deh sama sesuatu yang dipunya pelawak.

Sesuatu-nya anak kecil ini jauh lebih natural, and unpredictable.

 

Sepagian tadi, saya (tante ‘boongan’nya Nadya), d’Uci’ (tante ‘beneran’nya Nadya), dan Nadya lagi ngumpul2 di kamarnya (Nadya, red.).

Saya cuma ngeliat-liat aja (sambil sesekali nimbrung) waktu d’Uci’ ngajak main Nadya.

“Ambil endong2, Teeeeee…,” (baca: ambilkan gendongan, dong (tan)teee…..) si boss kecil mulai main perintah.

“Okeeeh,” jawab si tante.

Ngeliat tantenya sudah megang gendongan, si boss kecil ngeluarin perintah kedua,

“Endong adek, Te. Endong adek!” (baca: Nadya mau gendong adek mainan boneka yang nyeremin, Te…)

Pas tantenya lagi ngalungin gendongan ke leher (-nya Nadya, tentu saja), eh boneka adek2an plastiknya malah dijatohin.

“Adek jatuh, ADEK JATUUH….” si boss kecil ngikik2 kegirangan.

Haduuuuu tadi bukannya ngerengek2 minta gendong boneka ya? Ini malah dijatuhin *_*

Kemudian tantenya bilang, “Lhoooo kok dijatuhin adeknya. Kasian kaaan, nanti luka loh… terus nangis gini ‘huhuhu'”

“Adek. Luka. Nangis. hu.u.uuu *niruin suara orang nangis*,” tiru si boss kecil.

Tantenya jawab lagi, “Iya nangis, adek kan luka… ini liat… kakinya adek luka.”

“Luka?” tanya si boss kecil.

“Nanti lukanya adek dikasih betadin, ya… biar cepet sembuh,” timpal si tante.

“asiih etadin?” ulang si boss kecil.

Saya akhirnya ikut2an. “Bukan etadin Nad, tapi BEEE-TAAA-DIIN,” eja saya.

“Apa, Nad?”

“BEEEE-TAAA-DIIIIN”

YES! Sempurna!

Sampai beberapa saat kemudian…

Tantenya ngomong lagi, “Eh ambil betadinnya, yuk!”

“Ana, Te?” (baca: di mana/ke mana, Te?)

“Ambil betadin. Ambil apaa?,” ulang si tante.

Dan dengan entengnya si boss kecilpun meniru,

“AMBIL MINYAK-TADIN”

Alaamaaaaaaaakkkkk!!!

 

Tak lama setelah kejadian di atas, maka berikutnya giliran kejadian ini:

Kebetulan di kasur lagi ada 3 poster (1 dunia buah, 2 dunia binatang) yang memang buat nadya belajar.

Maka saya dan d’Uci’ pun iseng-iseng nebakin Nadya.

“Jerapah mana, Naaaaad?”

“Iniiii….”  *nunjuk ke gambar jerapah*

YES. Bener.

“Kalo gajah mana, Nad?”

“Iniiiii….”

YES. Bener.

“Kalo ini apa?”

“Panda!”

YES. Bener.

“Eh kudanya punya anak! Ayo cari yang mana kuda.”

“Iniiiii!”

YESS. Masih bener.

“Ini apa, Nad?”

“Sapi!”

“Bagus! Bunyinya sapi gimana?”

“Moooo”

Kalo bunyinya kucing?

“Meyoooong”

“Bagus! Nadya pinter!”

 

Dan semuanya masih oke2 saja sebelum lanjut ke poster buah2an.

“Eh ganti yang ini. Ayo cari jeruk yang mana?”

“Iniiii!”

Aman.

“Apel?”

“Iniiii!”

“Bagus!”

“Kalo pisang yang mana?”

“Iniii!”

Masih aman.

Tapi giliran ditanyain warna…

“Eh pisang warnanya apa, Nad?”

*hening*

*enggak bisa jawab*

“Pisang warnanya ku-?”

“-ning!”

“Lagi2. Pisang warnya apa, Nad?

“Uniiing!”

YES. bisa.

Kalo semangka warnanya apa, Nad?”

“Uniing…”

“Bukan. Bukan kuning. Semangka warnanya merah. Apa?”

“Me-rah!”

“Iya, me-rah. Pinter!”

“Eh kalo pisang tadi apa warnanya?”

“Ijo!”

“Kok ijo? Bukan ijo, tapi kuning.”

“Kuning?”

“Iya, kuning.”

“Jadi pisang warnanya apa, Nad?”

*hening*

*mikir*

dan si boss kecil pun dengan innocentnya menjawab lantang,

“PUTIH!”

 

ASTAGHFIRULLAAAAH…

Ini anak siapa yang ngajarin, sih?

Tadi seenaknya ngeganti-ganti merk obat luka dari betadine jadi minyaktadin.

Ini lagi, seenaknya ngeganti-ganti warna buah.

 

Cepatlah besar, Sayang… Dan belajarlah bahwa pisang itu kuning. Bukan merah. Bukan Putih. Tapi kuning, Sayang…

Salam sayang selalu,

–tante Iin–

 

>>> THE END <<<

keterangan foto:

– model: si boss kecil

– fotografer: tantenya si boss kecil-yang-sekaligus-si-empunya-blog-ini

– lokasi: taman(-tamanan) depan rumah-yang-sering-disalahartikan-para-kucing-sebagai-tempat-pup-gratis *_*

– properti: kursi putih kecil warisan tante Uci’, mainan donat2an warna-warni (tapi sayang cuma yang pink yang bersedia nampang)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: