‘Pindah Rumah’ (3)

Published April 14, 2011 by The Word Potion
Copy-paste from Friendster Blog
Date: July 31st, 2007
Title: APA YANG SALAH DARI AKU..???

Link: http://naratells.blog.friendster.com/2007/07/apa-yang-salah-dari-aku/

Note: Ini tulisan waktu dulu hati lagi galau-galaunya😄. Kalo dibaca sekarang mah, bukannya galau malah jadinya lucu.

 

APA YANG SALAH DARI AKU..???

Hidup itu sungguh aneh!—tidak pernah bisa kita terka kemana dia akan menuju…
Seringkali ketika sendirian, aku merasakan keramaian—keramaian yang secara ajaib bisa aku peroleh dalam kesendirian.
Atau seballiknya…
Ketika tengah berada di keramaian, kudapati diriku sedang sendirian.

Seperti waktu itu…
(di sebuah sore yang cerah—food court Royal Plaza)
Aku bawa kesendirianku ke tengah keramaian, ke sebuah food court. Berbaur bersama orang-orang yang tentu saja punya tujuan yang sama denganku—mengisi perut!
Lumayan penuh pengunjung juga tempat itu, saat itu. Entah yang benar-benar punya tujuan mengisi perut atau yang sekedar pengin berkunjung.
Ada yang cuma berdua, bertiga, berempat, ada juga yang datang bergerombol.
Ada yang bercerita dengan hebohnya, ada juga yang sedang serius.
Aku memilih duduk di pojokan—sendirian, sambil menikmati KFC paket Attack pesananku. Selagi makan, aku sempatkan memperhatikan sekitarku. Penuh orang asing tentu saja! Sampe akhirnya mataku berhasil menangkap sebuah objek—sekumpulan orang yang berada tepat di depan mejaku. Ternyata setelah aku amati lebih lama, mereka adalah sekumpulan anak-anak muda (berumur 17-an, eh? At least I think so!). Sekumpulan anak muda yang dari luar keliatan seneng-seneng, sibuk berceloteh, tertawa riang. Sebagai orang luar aku menganggap mereka biasa.
Padahal siapa tau salah seorang dari mereka ada yang hatinya tengah hancur, remuk redam, pecah berkeping-keping. Siapa tau ada tangis dibalik tawanya, ada seiris luka yang menyusup di sela-sela wajah gembiranya. Ada perih yang menyeruak di dalam hatinya—sejumput perih yang menyeruak karena harus terus-terusan menahan keluarnya air mata—biarpun hanya setitik. WHO KNOWS..?!!

Ironis memang…
Seolah-olah tidak mau peduli seberapa besar masalah yang tengah kita hadapi, waktu terus bergulir, orang-orang terus berjalan maju. Biarpun ketika kita cerita mimpi buruk apa yang tengah kita alami, mereka akan bilang “Aku ngerti gimana rasanya”. Tapi tidak! Kenyataannya tidak seperti itu! Mereka tidak benar-benar tau, karena mereka tidak berada di posisi kita saat itu.
Seraya berharap –seperti yang sering kali menjadi pikiran banyak orang—masalah akan terselesaikan seiring bergulirnya waktu…
Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah ikut berjalan, seperti orang-orang lain berjalan. Karena waktu tidak pernah akan berbaik hati menunggu kita selesai dengan masalah kita. Waktu tidak akan mengampuni kita yang tetap stuck. Tidak ada kompromi!

Sering kali di kesunyian tengah malam, aku terbangun. Seperti yang langganan terjadi akhir-akhir ini. Saat mataku terbuka, aku dapati sekelilingku tengah sibuk dengan alamnya sendiri-sendiri. Dan aku..? Aku akan bertanya-tanya, “Apa yang salah dari aku???”

…………

Aku mencoba mempercayai 1 hal…
“Tuhan menunda permohonan do’a kita, itu artinya Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik buat kita. Jadi yang kita butuhin hanyalah bersabar…”
Sebuah kata bijak yang aku dapatkan waktu membaca Lupus. Kedengaran klise, eh? NE~WAYZ..!!!
Tapi setidaknya aku masih bisa ikut tertawa, bisa turut gembira. Melihat fakta bahwa orang-orang lain—orang-orang terdekatku, tetap berjalan maju, berjalan seperti biasa.

Lagi-lagi aku bertanya-tanya…
Setelah kembali tertidur dan nanti terbangun lagi, akankah aku bisa berjalan seperti orang-orang lain berjalan? Should I start my day then?
Dan mau tidak mau akhirnya aku tertawa, ketika kemudian aku berhasil mengingat sederet kata-kata—lagi dan lagi, aku dapatkan di buku serial Lupus,
“Do you believe in life after love?”
Dalam hati aku tereak kenceng-kenceng, “I DO…!!”
Kalau sudah begitu, aku akan kembali tertidur. Dengan lelap…tenang…nyenyak…
Membawa sebuah senyum…menggenggam sebuah asa baru…
Mengikuti orang-orang lain, yang terus berjalan maju.

Tuhaaaaan,,, aku mau bersabar, Tuhan. Mau! Menunggu engkau mempersiapkan sesuatu yang lebih baik lagi buatku. Aku benar-benar mau menunggu, Tuhan…

(A million thanks to Raditya Dika. Tanpa membaca tulisanmu, tidak akan lahir tulisan ini.
Buat seorang Hilman Hariwijaya juga, matursuwun…
Percayalah…after 20 years, serial Lupus yang anda tulis masih sama menariknya seperti serial Lupus yang saya baca pertama kali dulu—setidaknya ini buat saya.
What I like most is…the way u characterize Lupus, really great! Lupus is just an ordinary person, however it takes—seperti juga saya).

FOR THE SAKE OF SADNESS AND SORROWFUL,
I FIND MY SELF WALKING ALONE…
DUMB THE BUSTARD, EVERYONE..!!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: