‘Pindah Rumah’ (7)

Published April 14, 2011 by The Word Potion
Copy-paste from WordPress 1 (Naratalks)
Date: October 9, 2009 at 6:53 p.m.
Title: Buku Fiksi: Antara Setuju dan Tidak

Link: http://naratalks.wordpress.com/2009/10/09/buku-fiksi-antara-setuju-dan-tidak/

Note: Salah sedikit tulisan yang dibuat bener-bener ‘pakai hati’.

 

Buku Fiksi: Antara Setuju dan Tidak

Pernah suatu ketika, di salah satu newsletter Gramedia Junior langganan, saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Christopher Paolini (Eragon’s author). Dan kali ini saya akan memulai postingan ini dengan terlebih dahulu mengutip apa yang diopinikan oleh Christopher Paolini dalam artikel tersebut.

“Film bagus untuk menggambarkan aksi dengan sedikit kata-kata, teater bagus untuk menggambarkan kata-kata dengan aksi, dan radio secara keseluruhan terdiri atas kata-kata. Namun buku bisa mengajakmu menjelajah lebih dalam ke pikiran dan perasaan orang dibanding media lain.”

Menarik, bukan? Senada dengan benang merah quote tersebut, saya juga bermaksud mengatakan bahwa buku adalah sarana yang paling baik untuk berimajinasi.
Imajinasi = fiktif. Fiktif = imajinasi.
Tapi ironisnya, tidak sedikit orang yang menganggap bacaan fiksi hanyalah something useless. Khayal. Fiktif. Tidak Lebih.
Saya, sebagai penggemar bacaan fiksi, berada di barisan terdepan orang-orang yang kontra dengan pandangan ini.

Ayolah… kalau saja kita mau sedikit open-minded, banyak kok hal yang bisa kita ambil dari bacaan fiksi.
Misalnya, saya tau sedikit-sedikit tentang grafologi dari membaca “Target: Amore” nya Hara Hope. Dari “Diorama Sepasang Albanna” nya Ari Nur saya belajar mengenal dunia arsitektur. “The Notebook” nya Nicholas Sparks membuat saya mengenal Alzheimer lebih jauh; dan dari seri Billy nya Daniel Keyes saya belajar banyak tentang kepribadian ganda (Multiple Personality Disorder).
Asyiknya lagi, pengetahuan tentang grafologi, arsitektur, Alzheimer dan MPD tadi–dengan cara penyampaiannya yang tidak membosankan–bisa diperoleh tanpa sedikitpun kesan menggurui, seperti khas buku-buku non-fiksi.

Bahkan, dari buku fiksi yang paling fiktif sekalipun, saya belajar banyak. Sebut saja novel Harry Potter. Mudah saja mengait-ngaitkan keseluruhan isinya dengan halah-’hanya’-urusan-sihir

-dan-anak-kecil. Mudah saja bilang–terlepas dari novelnya yang fenomenal–ujung-ujungnya isi ceritanya ‘hanya’ fiktif belaka. Tak lebih.IMHO, IT REALLY MAKES NO SENSE! *anggep aja 1 kalimat ini dicetak tebal pake underline pula*

Dari Harry Potter, saya belajar menganalisa bagaimana penerjemahnya melahirkan frasa “Pelahap Maut” dari source-nya “Death Eater”; atau bagaimana jeniusnya penulis dan penerjemahnya ‘menghidupkan’ dialog-dialog dalam novel, seperti petikan dialog,
“Anak pintar, si Hermione itu,” kata Harry, berusaha tersenyum. “Aku cuma menyesal tidak memintamu lebih awal. Kita bisa punya banyak waktu… berbulan-bulan… bertahun-tahun mungkin…”
Dari Harry Potter, saya juga belajar kapan orang luar memanggil orang lain dengan menyebut nama depannya dan kapan memanggil dengan menyebut nama belakangnya.

Moreover, mengingat buku fiksi lebih “ekspresif” dari buku non-fiksi (at least I think so!), even I notice the punctuation of the text. Bagaimana mengekspresikan kemarahan lewat tanda baca, menghitung berapa banyak tanda (.) yang harus ditulis kalau kita mau menggantung kalimat dalam sebuah dialog. Oke, bilang ini berlebihan!).

***

The point is, BERHENTILAH BILANG BACAAN FIKSI ITU GAK GUNA.
Sekian.
Thanks for reading.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: