Siapa tak kenal master animator ruhnya Studio Ghibli, Hayao Miyazaki? Barangkali ada yang belum tahu, sang putra, Goro Miyazaki, juga terjun ke dunia penyutradaraan yang salah satu karyanya ya film ini. Filmnya sendiri diadaptasi dari komik karya Chizuru Takahashi.
Premis From Up on Poppy Hill mengenai Umi, seorang pelajar SMA Isogo di Yokohama yang tinggal di sebuah rumah tua menghadap pelabuhan. Setiap pagi dia punya ritual mengibarkan signal flag untuk mengenang ayahnya yang sudah tiada. Lalu Shun, si pengelola koran sekolah yang rutin melihat bendera yang dikerek Umi dalam perjalanannya menuju sekolah. Ada bagian dua tokoh utama ini yang terhubung di masa lalu. Apa kira-kira?
Bicara penokohan, Umi memang tidak se-ikonik lead female character Studio Ghibli yang lain katakanlah Chihiro (Spirited Away), Kiki (Kiki’s Delivery Service), atau bahkan Shizuku (Whisper of the Heart). Tapi secara plotwise, From up on Poppy Hill ide ceritanya segar dan menarik. Mari kesampingkan romansa * lalu geli sendiri nulis kata romansa, wkwkw* Umi dan Shun, karena ada bagian lain yang justru lebih menarik.
Adalah Quartier Latin, sebuah gedung tua markas beberapa klub pelajar SMA Isogo yang cowok-cowok berpusat—-ada klub sastra yang menangani koran sekolah, klub arkeologi yang lagi galau gara-gara anggotanya tinggal dua, klub kimia yang eksperimennya sering meledak, klub matematika, klub elektro, klub astronomi yang mau setekun apapun mereka meneropong matahari, progresnya tak jauh-jauh dari berhasil melihat bintik matahari yang berbentuk garis lurus hahaha, sampai klub filsafat yang sepi peminat, anggotanya cuma seorang, paling tuwir pula. Hihihi
Singkat cerita, sekolah berencana merobohkan Quartier Latin. Lalu diadakanlah rapat akbar para pelajar laki-laki membahas ini. Awalnya hampir 80% mendukung rencana sekolah. Toh gedungnya sudah tua dan reyot, lebih baik diganti dengan gedung baru, pikir mereka. Mizunuma si ketua OSIS pun tidak bisa berbuat banyak. Mengetahui hal ini, Shun tidak tinggal diam. Ia didukung para anggota klub Quartier Latin lainnya menolak tegas rencana perobohan. Meski tua dan berantakan, gedung itu sangat berarti buat mereka.
“Menghancurkan bangunan lama sama saja dengan membuang kenangan. Seperti mengabaikan ingatan akan mereka yang telah mendahului kita. Kalian yang hanya menginginkan perubahan tapi tidak belajar dari sejarah tidak akan punya masa depan. Bagi semua yang tidak mau mendengarkan suara minoritas tidak pantas bicara demokrasi!” – Shun maboy😎 –
Atas saran Umi yang menganjurkan diadakannya pembersihan gedung menyeluruh, para anggota klub pun bahu-membahu menyulap Quartier Latin sebisa mereka, dibantu sekelompok pelajar perempuan.
“Wah kotor sekali. Kapan kalian terakhir kali membersihkan tempat ini?”
“Sejak ikut ekskul di sini kami belum pernah bersih-bersih.”
*Atuhlaaah cowok2. 🥴*
Akhirnya perlahan gedung yang tadinya reyot-suram-kotor-gelap-berantakan berhasil jadi rapi dan enak dilihat.
Nah masalahnya, meski Quartier Latin sudah berpenampilan baru, sekolah tetap pada rencana semula; merobohkannya musim panas ini juga!
Cerita lalu berlanjut ke perjuangan Mizunuma-Shun-Umi yang harus jauh-jauh ke Tokyo untuk meyakinkan ketua komite sekolah agar gedung tua mereka masih boleh berdiri.
Sampai tibalah hari yang mereka semua nantikan; kunjungan komite sekolah.
Berhasilkah para pelajar SMA Isogo meyakinkan ketua komite sekolah agar mengubah keputusan? Bagaimana nasib Quartier Latin setelahnya?
Nonton ajalah pokoknya. Mana seru kalau diceritakan sampai tamat.
From up on the Poppy Hill secara rating sebenarnya cukup bagus. 86% di Rotten Tomatoes dan 7,4/10 berdasar rating IMDb. Tapi film ini jarang sekali masuk daftar 10 film Studio Ghibli terbaik di ulasan yang banyak bertebaran di luar sana. Ya gimana, susah juga kalau berharap Goro Miyazaki bisa sedetil sang ayah dalam waktu singkat.
Kalau saya? Karena sama sekali ga ngerti urusan teknik penyutradaraan dan sinematografi, nonton film ini sangat membekas. Bukan karena cinta-cintaanya. Tapi lebih ke penggambaran huruhara mempertahankan Quartier Latin.
Dengan senang hati akan memasukkannya ke list favorit berdampingan dengan film-film Studio Ghibli yang legendaris semisal Spirited Away, My Neighbor Totoro, atau Grave of the Fireflies.
Dilarang protes. Kan suka-suka saya. 🤪
Kalau saja pacing endingnya bisa sedikit diperlambat. Berasa diburu-buru soalnya.
Adakah penggemar Studio Ghibli di sini? Pada favoritin karya yang mana nih?