Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka)

Published Februari 7, 2021 by The Word Potion

Judul Film         : Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka)

Produksi           : Studio Ghibli

Sutradara          : Isao Takahata

Tanggal Rilis     : 16 April 1988


Berlatar bulan-bulan akhir Perang Dunia II, film Studio Ghibli mahakarya Isao Takahata ini berkisah tentang perjuangan kakak beradik Seita dan Setsuko bertahan hidup setelah harus kehilangan ibu dan ayah mereka.
Grave of the Fireflies yang diangkat dari cerpen semi-autobiografi karya Akiyuki Nosaka, menjadi salah satu film yang tidak akan saya tonton berulang-ulang. Bukan, bukan karena filmnya biasa saja. Bagus banget malah! Tapi saking indah dan real animasinya, melipatgandakan efek depresif terutama selesai nonton filmnya. Lihat makanan, ingat Setsuko. Terus bisa yang seharian kepikiran, “Kasihan Setsuko. Setsuko yang malang.”
Secara Setsuko meninggalnya karena malnutrisi dan kelaparan. Diperparah oleh narasi film yang mana di salah satu scene digambarkan Seita yang kegirangan berhasil membawa pulang semangka segar dan bahan makanan lain, tapi hanya untuk menemukan adiknya yang sudah terbaring sangat lemah, menggenggam dan menguyah batu kecil yang ia bayangkan sate coklat (atau ntah makanan apa, lupa). Duuuh itu scene bener-bener deh… Menyayat hati. 💔
Di film ini kita benar-benar diberi gambaran bahwa perang hanya menyulut penderitaan dan tidak ada pihak yang diuntungkan dari adanya perang.
Kerlip cahaya di poster filmnya, merepresentasikan cahaya kunang-kunang, salah satu yang bisa membawa kebahagiaan dan tawa pada Setsuko. Tapi Ghibli fans berasumsi bahwa itu juga menggambarkan debu serpihan-serpihan bom yang meluluhlantakkan Kobe, kota tempat Seita dan Setsuko tinggal.

Grave of the Fireflies is such a timeless masterpiece from the legendary Isao Takahata YOU MUST WATCH!

From Up on Poppy Hill

Published Agustus 2, 2020 by The Word Potion

Siapa tak kenal master animator ruhnya Studio Ghibli, Hayao Miyazaki? Barangkali ada yang belum tahu, sang putra, Goro Miyazaki, juga terjun ke dunia penyutradaraan yang salah satu karyanya ya film ini. Filmnya sendiri diadaptasi dari komik karya Chizuru Takahashi.

Premis From Up on Poppy Hill mengenai Umi, seorang pelajar SMA Isogo di Yokohama yang tinggal di sebuah rumah tua menghadap pelabuhan. Setiap pagi dia punya ritual mengibarkan signal flag untuk mengenang ayahnya yang sudah tiada. Lalu Shun, si pengelola koran sekolah yang rutin melihat bendera yang dikerek Umi dalam perjalanannya menuju sekolah. Ada bagian dua tokoh utama ini yang terhubung di masa lalu. Apa kira-kira?

Bicara penokohan, Umi memang tidak se-ikonik lead female character Studio Ghibli yang lain katakanlah Chihiro (Spirited Away), Kiki (Kiki’s Delivery Service), atau bahkan Shizuku (Whisper of the Heart). Tapi secara plotwise, From up on Poppy Hill ide ceritanya segar dan menarik. Mari kesampingkan romansa * lalu geli sendiri nulis kata romansa, wkwkw* Umi dan Shun, karena ada bagian lain yang justru lebih menarik.

Adalah Quartier Latin, sebuah gedung tua markas beberapa klub pelajar SMA Isogo yang cowok-cowok berpusat—-ada klub sastra yang menangani koran sekolah, klub arkeologi yang lagi galau gara-gara anggotanya tinggal dua, klub kimia yang eksperimennya sering meledak, klub matematika, klub elektro, klub astronomi yang mau setekun apapun mereka meneropong matahari, progresnya tak jauh-jauh dari berhasil melihat bintik matahari yang berbentuk garis lurus hahaha, sampai klub filsafat yang sepi peminat, anggotanya cuma seorang, paling tuwir pula. Hihihi

Singkat cerita, sekolah berencana merobohkan Quartier Latin. Lalu diadakanlah rapat akbar para pelajar laki-laki membahas ini. Awalnya hampir 80% mendukung rencana sekolah. Toh gedungnya sudah tua dan reyot, lebih baik diganti dengan gedung baru, pikir mereka. Mizunuma si ketua OSIS pun tidak bisa berbuat banyak. Mengetahui hal ini, Shun tidak tinggal diam. Ia didukung para anggota klub Quartier Latin lainnya menolak tegas rencana perobohan. Meski tua dan berantakan, gedung itu sangat berarti buat mereka.

“Menghancurkan bangunan lama sama saja dengan membuang kenangan. Seperti mengabaikan ingatan akan mereka yang telah mendahului kita. Kalian yang hanya menginginkan perubahan tapi tidak belajar dari sejarah tidak akan punya masa depan. Bagi semua yang tidak mau mendengarkan suara minoritas tidak pantas bicara demokrasi!” – Shun maboy😎 –

Atas saran Umi yang menganjurkan diadakannya pembersihan gedung menyeluruh, para anggota klub pun bahu-membahu menyulap Quartier Latin sebisa mereka, dibantu sekelompok pelajar perempuan.

“Wah kotor sekali. Kapan kalian terakhir kali membersihkan tempat ini?”

“Sejak ikut ekskul di sini kami belum pernah bersih-bersih.”

*Atuhlaaah cowok2. 🥴*

Akhirnya perlahan gedung yang tadinya reyot-suram-kotor-gelap-berantakan berhasil jadi rapi dan enak dilihat.

Nah masalahnya, meski Quartier Latin sudah berpenampilan baru, sekolah tetap pada rencana semula; merobohkannya musim panas ini juga!

Cerita lalu berlanjut ke perjuangan Mizunuma-Shun-Umi yang harus jauh-jauh ke Tokyo untuk meyakinkan ketua komite sekolah agar gedung tua mereka masih boleh berdiri.

Sampai tibalah hari yang mereka semua nantikan; kunjungan komite sekolah.

Berhasilkah para pelajar SMA Isogo meyakinkan ketua komite sekolah agar mengubah keputusan? Bagaimana nasib Quartier Latin setelahnya?

Nonton ajalah pokoknya. Mana seru kalau diceritakan sampai tamat.

From up on the Poppy Hill secara rating sebenarnya cukup bagus. 86% di Rotten Tomatoes dan 7,4/10 berdasar rating IMDb. Tapi film ini jarang sekali masuk daftar 10 film Studio Ghibli terbaik di ulasan yang banyak bertebaran di luar sana. Ya gimana, susah juga kalau berharap Goro Miyazaki bisa sedetil sang ayah dalam waktu singkat.

Kalau saya? Karena sama sekali ga ngerti urusan teknik penyutradaraan dan sinematografi, nonton film ini sangat membekas. Bukan karena cinta-cintaanya. Tapi lebih ke penggambaran huruhara mempertahankan Quartier Latin.

Dengan senang hati akan memasukkannya ke list favorit  berdampingan dengan film-film Studio Ghibli yang legendaris semisal Spirited Away, My Neighbor Totoro, atau Grave of the Fireflies.

Dilarang protes. Kan suka-suka saya. 🤪

Kalau saja pacing endingnya bisa sedikit diperlambat. Berasa diburu-buru soalnya.

Adakah penggemar Studio Ghibli di sini? Pada favoritin karya yang mana nih?

Reading Career of Evil by Robert Galbraith

Published Januari 1, 2017 by The Word Potion

That feeling when you finally reach the last page of a book you’ve read for months!
Buku ketiga serial Cormoran Strike.
Nyicil baca berbulan2 😂, tapi baru 3 hari ini benar2 serius baca sampai tamat saking penasarannya.
Dan lagi2 salah nebak siapa pelakunya. 😑
Padahal dibanding dua buku sebelumnya, di Career of Evil ini jumlah tersangka terpangkas hanya empat saja. Hhhhhhhh.
I am not in the mood to write a looong review about the other adventure of Cormoran Strike-the private detective and his partner, Robin Venetia Ellacott.
Lebih tertarik membahas lembar ‘ucapan terima kasih’ sang penulis, Robert Galbraith, yang tak lain adalah nama alias JK Rowling.
Dari situ kita para pembaca bisa tahu riset tidak main2 JKR yang membuat buku ini sarat detil dan tampak nyata; salah satunya berkunjung ke Cabang Investigasi Khusus Seksi 35 (UK) Polisi Militer Kerajaan di Edinburgh Castle.
Ya inilah kenapa di tangan penulis serius dan berbakat, bacaan fiksi juga tak kalah sumbangsih ngasih kita banyak pengetahuan dan logika baru, dengan penyampaian yang tentu lebih fun timbang bacaan non-fiksi. Ya kan? Ya.
Pantas saja harga buku 547 halaman ini meningkat drastis dari buku sebelumnya, salah satu buku ‘reguler’ termahal yang pernah saya beli. Bikin sesak nafas lah harga buku sekarang.

Credit khusus buat penerjemah Career of Evil dan dua buku sebelumnya, Siska Yuanita. Salut mbak Siska paham betul mana kata2/kalimat bahasa Inggris yang harus diterjemahkan, mana yang harus dibiarkan agar tidak terlalu mengganggu kalau dipaksa di-bahasa Indonesia-kan.

Seperti yang sudah2, kisah Cormoran & Robin diceritakan memakai sudut pandang orang ketiga, yang membuat para pembaca (baca: saya) lebih leluasa membayangkan setiap  keseruannya. Jadi seperti ikutan tour personal gratis menjelajah berbagai sudut London.
But that ending though!! 😖 Ga sabar nunggu buku berikutnya.
Dengar2 serial ini akan dibuat serial tv oleh BBC. Semoga castnya pas. Kalo nggak, buyar deh semuanya. 🤔

Reading Career of Evil by Robert Galbraith

View on Path

Listening to Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti by Banda Neira

Published Desember 25, 2016 by The Word Potion

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Bubar.
Usai.
So long, Banda Neira.
Terima kasih warisan musik & lirik kerennya. You’ll be missed. 😢

Listening to Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti by Banda Neira

Preview it on Path

Published Desember 15, 2016 by The Word Potion

Momen 3 tahun lalu.
Sekarang Togamas Diponegoro sudah pindah. Ga bisa lagi diakses cukup jalan kaki bentar dari Bonbin.
Tempatnya ga senyaman yang lama. Rasa kehilangan terbesar ya kolam ikan ini sih. Sama taman mini lengkap dengan jembatan, krucuk2 air dan bangku panjang di pinggirnya.
Sedih. 😔 – at Toko Buku Togamas

View on Path

Reading Harry Potter and the Cursed Child – Parts One and Two (Special Rehearsal Edition) by J.K. Rowling

Published Agustus 9, 2016 by The Word Potion

Well, well, well. All is well. I smiled, giggled, giggled, giggled, sighed, sighed, and cried (just a little :p). It’s quite a relief to know that they’re ALL in the same team. The reason I rated this book 4 stars—don’t mean to say that a 5-star book needs to be perfect—is because I just couldn’t accept the only 300something pages this book contains (you know, with those such things happened after 19 years). I couldn’t get enough of Harry Potter! Desperately need to find someone to talk to about this book and it’s so frustating since none of my (real)friends read Harry Potter. How bad is that?

Reading Harry Potter and the Cursed Child – Parts One and Two (Special Rehearsal Edition) by J.K. Rowling

View on Path

Reading A Monster Calls by Patrick Ness & Jim Kay

Published Mei 28, 2016 by The Word Potion

13-year-old ‘unseen’ Conor O’Malley, getting bullied at school, a yew tree, berries, nightmares, a strict annoying grandma; Styled as a children’s book but more suitable for adults, just like The Little Prince.
Though its ending was satisfying (for me) but I still couldn’t forget the uncomfortable feelings after I finished reading the book. Dark yet beautiful.
Oh, and Jim Kay is now my favorite illustrator! 😀
Can’t wait for the upcoming movie!

Reading A Monster Calls by Patrick Ness & Jim Kay

View on Path

Published Oktober 13, 2015 by The Word Potion

Oh how I love the magical feeling of receiving REAL letters!
Jaman sudah serba digital begini, penpalling is just.. awesome. Not just a hobby, it’s an art. *yoooot*

View on Path

Reading Paper Towns by John Green

Published Juli 2, 2015 by The Word Potion

Kelar! Mirip Looking for Alaska bingit. Tapi karakter Margo lebih menarik.
The road trip is the best part. I want to say my fave character’s Radar with his logical thinking and craziness in calculating-almost-everything, but I come to the conclusion that I love Ben even more! Ben and his ‘i need to pee’. The silly spontanious Ben.
Can hardly wait for the movie!

Reading Paper Towns by John Green

View on Path

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai